Sunlun Sayadaw

Sunlun Sayadaw menceritakan pengalamannya kepada murid-muridnya:

"Dengan menjaga kesadaran terhadap sensasi dalam latihan berulang-ulang, taraf kesabaran saya berangsur-angsur meningkat. Ketika ada orang memaki-maki saya, unsur ketidaksenangan, ketidaksukaan (dosa) muncul dalam batin saya. Tentu saja saya tidak menyukainya. Tetapi perhatian penuh memperingatkan saya,'Oh! Ini adalah kemarahan'. Jadi, saya mengekang emosi ini. Saya merasa senang ketika mendapati bahwa saya mampu menahan diri, karena di masa lalu saya akan langsung menampar orang tersebut. Itu berarti bahwa telah ada banyak perkembangan dalam hal kesabaran dan ketahanan dalam diri saya.

Ketika saya melihat sesuatu yang indah, muncul rasa senang, keinginan (lobha). Tetapi kemudian, saya berpikir,"Rasa senang akan kenikmatan ini hanyalah unsur lobha (keserakahan), mata telah melihat objek yang terlihat. Keindahan dari objek yang terlihat (ru'pārammanna) hanyalah sekadar persepsi (saññā). Apa kaitannya dengan saya (sehingga saya begitu senang)?"

Sejak saat itu, ketika saya mendengar sesuatu, saya mengingatkan diri saya sendiri bahwa ini hanyalah persepsi (saññā) akan suara, objek yang terdengar.
Ketika menyentuh sesuatu, saya memahaminya sebagai semata-mata soal persepsi atas objek yang dapat disentuh.
Ketika mencium sesuatu, saya memahaminya sebagai persepsi atas objek penciuman. Dengan perhatian penuh yang mendalam, saya dapat memotong batin saya untuk tidak bereaksi, juga tidak menghakimi, atas suara, sentuhan, aroma, dan segala objek-objek indra, dan sekadar menadah segala sesuatu sebagaimana adanya (dengan keseimbangan batin). Dengan cara ini, saya memahami cara kerja batin sehubungan dengan objek-objek indra."

"Saya telah mencari-cari musuh di dalam diri saya dan menemukan bahwa musuh tersebut adalah unsur-unsur keserakahan (lobha), kebencian (dosa), delusi (moha), kesombongan (mana) dan sejenisnya. Setelah menganalisa lebih lanjut, saya menemukan bahwa keserakahan adalah sumber utama di antara unsur-unsur tersebut yang menimbulkan penderitaan paling besar (dukkha) bagi saya, sehingga saya memutuskan untuk menyingkirkan musuh utama tersebut. Dan jika Anda bertanya kepada saya bagaimana caranya, beginilah caranya:
"Ketika Anda menyentuh sesuatu, Anda menyadarinya. Jagalah kesadaran itu dengan perhatian penuh. Jika Anda terus menyadari sentuhan tersebut, latihan 'Sentuhan-Kesadaran- Perhatian', unsur keserakahan akan berangsur-angsur berkurang baik dari segi frekuensi maupun intensitas. Keserakahan akan semakin berkurang, dan semakin melemah".


- Sunlun Sayadaw