Segalanya tidak kekal dan selalu berubah


Dari sudut pandang Buddhis, kita sebagai manusia hidup dengan cara yang sangat aneh. Kita memandang hal-hal yang tidak kekal sebagai sesuatu yang kekal, meskipun segala sesuatu senantiasa berubah di sekeliling kita. Proses perubahan berlangsung secara terus-menerus.
Bahkan ketika Anda membaca kata-kata ini, tubuh Anda sedang mengalami proses penuaan.
Tetapi, Anda tidak memperhatikan hal itu.

Buku yang ada di tangan Anda mulai rusak. Cetakannya memudar, dan halaman-halamannya menjadi rapuh. Dinding-dinding di sekeliling Anda mengalami penuaan. Molekul-molekul di dalam dinding-dinding itu bergetar dengan kecepatan yang luar biasa, dan semuanya berubah, terpecah-pecah, dan perlahan-lahan melebur.
Anda juga tidak memperhatikan hal itu.

Lalu suatu hari Anda melihat sekeliling. Kulit menjadi keriput dan sendi-sendi Anda terasa nyeri. Lembaran-lembaran buku menguning dan pudar, dan bangunan rumah semakin rusak. Kemudian, Anda meratapi masa muda yang hilang, menangis ketika harta benda Anda hilang.
Dari manakah rasa sakit ini berasal?

Itu berasal dari kurangnya perhatian Anda sendiri. Anda melalaikan untuk mengamati kehidupan dengan seksama. Anda lalai memperhatikan gerakan arus dunia yang terus-menerus berubah. Anda membangun suatu kumpulan konstruksi mental - "saya", "buku", "rumah" - dan Anda berasumsi bahwa semua itu adalah wujud yang solid dan nyata. Anda berasumsi mereka akan bertahan selamanya.
Padahal tidak.

Tetapi, sekarang Anda dapat menyelaraskan diri dengan perubahan yang terus-menerus. Anda dapat belajar untuk melihat hidup Anda sebagaimana gerakan yang terus mengalir. Anda bisa belajar untuk melihat aliran yang terus-menerus dari semua hal yang terkondisi.
Anda bisa melakukannya.
Hanya soal waktu dan latihan.

- Bhante Henepola Gunaratana