Michael Kewley


Sebuah kata yang sering digunakan dengan niat baik dalam ajaran Dhamma adalah pengampunan, dengan pengertian bahwa kita seharusnya senantiasa bermurah hati dan memaafkan orang lain.
Akan tetapi, dalam pemahaman Dhamma yang sesungguhnya, ini bukanlah pandangan yang benar semata-mata karena tidak ada konsep pengampunan.
Kita harus memahami bahwa untuk memaafkan orang lain, kita harus mengambil posisi moral yang tinggi. Dalam menghakimi, kita harus berdiri lebih tinggi sehingga kita dapat berkata, 'Saya memaafkanmu'.
Untuk memaafkan orang lain, kita harus menempatkan diri kita pada posisi yang lebih tinggi secara moral, jika tidak, bagaimana kita dapat memaafkan?
Pemahaman Dhamma, yang dibangun dalam sikap cinta kasih dan kebaikan, berbeda dan sangat sederhana; selama makhluk-makhluk belum tercerahkan, mereka mampu melakukan segala macam tindakan kejam dan tidak adil melalui tubuh dan ucapan mereka. Dengan pemahaman yang benar ini, tidak ada yang perlu dimaafkan, hanya realitas perilaku yang belum tercerahkan untuk diterima.
Pahamkah anda?

Kita tidak memaafkan seekor anjing yang menggonggong pada pukul dua pagi, kita menerimanya sebagai perilaku seekor anjing. Kita tidak memaafkan anak-anak kita yang mencoret-coret dinding kamar tidur mereka, kita menerimanya sebagai perilaku anak-anak.
Dengan demikian, ketika makhluk-makhluk bertindak kejam terhadap sesama, ketika mereka menyakiti dan membunuh makhluk hidup lain, ketika mereka membenarkan rasisme, seksisme, atau diskriminasi berdasarkan usia, ketika mereka berperilaku dengan cara-cara yang tidak tercerahkan, kita menerima realitas dari keadaan tersebut.
Dengan cinta kasih kita menerima dan dengan kebijaksanaan dan kebajikan kita bereaksi.
Reaksi adalah bagian penting dari menjalani hidup dan menjadi bagian dari dunia. Hanya jenis tanggapan seperti apa yang kita berikan yang akan menentukan pemahaman Dhamma kita yang terdalam. Lebih banyak kemarahan, lebih banyak kekerasan, lebih banyak kebencian tidak akan menciptakan kedamaian bagi Anda atau dunia dan di sinilah kita perlu memahami dengan jelas bahwa kehidupan Dhamma kita haruslah lebih dari sekedar sesuatu yang kita patuhi ketika segala sesuatunya berjalan dengan baik bagi kita.
Dengan pemahaman Dhamma yang benar, kita hidup damai dengan semua hal yang tidak kita sukai tanpa berusaha menghancurkannya atau lebih buruk lagi, menghakimi mereka dan kemudian memaafkan mereka atas ketidaksempurnaan mereka yang kita persepsikan.
Semoga semua makhluk berbahagia.

- Michael Kewley